Siapa Ini Aku Tuhan?
Jati Diri
“A
|
ku pasti bisa menjalaninya” Kalimat penyemangatku tuk mengarungi
peliknya kehidupan ini. Hidup penuh luka terkukung dalam suatu dilema. Aku
terjerat, terjerambak penatnya kehidupan mendalam, antara hidup atau mati. Aku
manusia biasa yang penuh akan penyesalan yang mendalam.
Aku hanya manusia yang butuh
akan penghidupan abadi yang penuh akan kebahgiaan. Aku prita gadis belia yatim
piatu, banyak hal kulalui tanpa keluarga disampingku. Aku hidup untuk diriku
dan untuk nyawaku, aku bosan hidup seperti ini.
Panasnya terik matahari yang menyengat mengingatkanku akan kerasnya
hidup tanpa sosok pelindung yang menghidupi diri ini.
“Prita….” Sapa Tata
“Ada apa Ta”
“Darimana kamu Prit?”
Aku dari perpustakaan”
“O, nyari buku apa Fir?”
“Aku nyari buku tentang…,”
Belum selesai Fira menjawab, tiba-tiba terdengar suara memanggil Fira.
“Fira….”
“Ya ada apa?”
Tanya Fira
“ Aku boleh pinjam
buku kamu apa nggak?” Tanya Willy
“ Ya boleh, tapi
buku yang mana Wiil?”
“Itu lo. Buku
catatan mata kuliah kemarin.”
“O, yang itu,
boleh-boleh”
****
Kata mistis akhir-akhir ini kerap terdengar dari mulut manis Fira,
lontaran kalimat aneh syarat akan makna menggelegar pelupuk hati, mulai aku
sadari saat suara-suara menghinggapinya.
Fajar mulai betaut
keperaduan, sedang bulan menyinari pelupuk hati yang gundah gulana, hampa jiwa
telah menusuk relung raga. Tak mampu melesatkan hampanya jiwa. Aku terheran heran dengan sikapmu yang selalu
membuat diri ini tertancap dalam kerasnya tanah berbatu.
“ Hai, Mel…. Em
aku disni lagi refreshing, la kamu?”
“Aku lagi jalan-jalan aja, mencari
suasana baru, soalnya lagi banyak tugas.”
“ Jangan begitu, masih ada Allah
yang akan membantu kita untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi, jadi
berdo’alah dan semangat!”
“O… begitu. Baiklah, makasih ya atas
sarannya"
Dalam benak Melati
bertanya-tanya kenapa temanku sangat berubah drastis. Melati tidak habis fikir
kalau teman sewaktu SMP bisa berubah drastis seperti itu. Tak bisa di logika
bahwa perubahan tersebut membawa dapat terjadi secara kilat. Dimana temanku
yang dulu. Keanehan demi kenehan disadari oleh lingkungan dimana Fira tinggal.
*****
Hari-hari sunyi
terlampau tanpa secercah mentari menyinari di nurani Fira, hanya awan mendung
yang melingkupi brain and her Heart. Aku hanya seorang gadis yang
menginjak kedewasaan. Ilmu pas-pasan yang menyurutkan langkah ini menuju
illahi. Terkadang hati ini bergejolak dengan nikmat-nikmat duniawi.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, siapa ya?”
“ Maaf, ini Fira. Inkanya ada bu ?”
“Ada, Silahkan duduk.”
“Iya bu.”
Saat aku bertandang ke rumah Inka, aku merasa nyaman seperti ada
sesuatu hinggap di surga Inka.
“Ada apa Fir, tumben kesini”
“ Iya nih ada sesuatu yang mau aku bicarakan sama kamu.”
“Apa itu?”
“ Em, Begini besok kan hari
kamis, aku ingin ngajak kamu buat ikut Istighosah, kamu mau nggak?”
“ Em… jam berapa Fir?”
“Ya, sekitar jam 8 malam ”
“ Em, okelah kalo begitu.“
“Sip lah. Udah ya aku pulang
dulu soalnya ada acara nih.”
“Ya.”
“Wassalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Tanpa banyak basa basi Melati pun
aku ajak untuk mengikuti acara istighosah, namun Melati heran dengan apa yang
aku lakukan saat ini. Melati heran kenapa aku bisa bersikap seperti ini,
padahal sebelumnya aku tidak terlalu fanatik dengan ini. Apakah ini petunjuk
Allah. Semoga saja,. Aku melakukan hal seperti ini itu untuk mengikuti jejak
Rasul, dengan mengikuti tindakan-tindakan yang dilakukan beliau serta perintah
Tuhan semesta alam.
Aku selalu
bersujud kepada-Mu, suatu ketika aku lalai menjalankan perintah-Mu. Hati ini
terbuai dengan sifat-sifat duniawi. Huh, aku hanya bisa pasrah dan pasrah.
semuanya akan berhasil jika Ia menghendaki-Nya, tak lupa do’a kedua orang tua
kita. Apalah sebuah arti usah yang tak disertai dengan do’a, apalah arti sebuah
kekayaan dan harta melimpah jika orang yang kita sayangi menjahui kita, lebih
baik miskin namun kaya hati.
*******
Tiap-tiap hasil
yang kita peroleh itu berasal dari kehendak Allah SWT, seperti Nabi Muhammad
SAW, beliau selalu sabar dengan cobaan bertubi–tubi, beliau terus bertawakal
kepada Allah dan memunajatkan do’a kepeda-Nya. Aku ingin sekali seperti beliau
yang selalu tabah dan tawakal jika diberi cobaan, memang aku hanya manusia
biasa, tak sempurna, karena kesempurnaan itu milik Allah bukan makhluk
ciptaan-Nya.
Aku terhenyak,
ketika teringat sebuah peristiwa tragis menghampiri temanku, namanya Yuyun, dia kehilangan seorang panutan
dalam hidupnya, ibunya di panggil Sang Khaliq. Aku ikut larut ikut merasakan,
betapa pahitnya kehilangan seorang yang melahirkan kita saat kita belum bisa
membuatnya bahagia, itulah mengapa akhir-akhir ini aku jadi pendiam dan lebih mensyukuri
nikmat yang diberikan Sang Pencipta.
Aku heran dengan
temanku, mereka memandangku aneh, huh, apakah aku terlalu mencolok ya dengan
sikap yang aku terapkan akhir-akhir ini. Entahlah, tak perlu aku pusingkan
semua itu. Hal terpenting sekarang ini adalah bagaimana menata hatiku supaya
dapat mengikuti jejak Rasul.
Hatiku
perlahan-lahan mulai aku jilbabi, tak lama kemudian giliran aurat kututupi.
Namun tata busana yang aku kenakan ini menjadi buah bibir, tapi mereka heran
dengan gaya pakaian aku ini, malah slentingan aku dengar tuduhan terhadapku
sebagai aliran teroris. Huh, kupingku merah membara seakan tak kuasa menahan
gunjingan-gunjingan menusuk hati tersebut. Perlu aku perjelas, bahwa aku bukan
seorang teroris tapi aku adalah orang biasa, sama seperti mereka.
Apakah gaya
berbusanaku terlalu fanatik, ataukan cara bicaraku atau, entahlah, whatever
dengan semua itu, aku ya aku, inilah diriku, walaupun aku telah sedikit
berubah, namun, aku tetaplah aku yang dulu, aku berbusana, bertingkah laku
seperti ini itu adalah untuk mengikuti syari’at agama yang aku anut, apakah
salah??? Nggak akan?? Semua orang boleh, nggak cuma aku, tapi kenapa mereka membicarakan aku?? Ya Allah…,
apa yang aku bicarakan ini, astaghfirullahaladzim…. Aku tlah suudzan kepada
mereka. Ampuni dosa hamba-Mu ini ya Allah…, amin.
Kian hari aku
semakin memperdalam ilmuku tentang agama, aku tak mau jadi Taklid (mengikuti
ajaran tanpa mengetahui dasarnya). Rasa penasaranku membuatku terus mencari dan
mencari apa yang dapat menjawab semua pertanyaan
yang ada di otak ini. Semakin banyak yang aku ketahui semakin bertambah rasa
penasaranku. Aku tahu tak semua
pertanyaan ini dapat ku temukan jawabannya. Mungkin aku harus lebih bersabar
mencari jawaban.
*********
Dan suatu hari aku
,menemukan sebuah buku yang menariku untuk membacanya. Ya…, buku tentang
bagaimana cara berjilbab yang baik, dan menjadi muslimah taat. Tanpa disadari
hatiku mulai yakin dengan apa yang aku lakukan, hari demi hari kulai dengan
senyuman manis, walau kerikil tajam melintas di depan mata.
“Ya Allah,
kuatkanlah hamba-Mu ini, jangan biarkan aku terjerumus ke lubang gelap….
Terangilah langkahku…. Dalam menggapai ridho-Mu….”
Seuntai kata yang
tak pernah aku lewatkan dalam setiap gontai langkah. Langkah-langkah penuh
duri-duri yang melukainya. Namun, aku harus kuat, harus!! Apalah arti duri
tajam jikalau nanti aku kan mendapatkan obatnya. Lebih baik hidup terseok-seok
dan nantinyakan mendapatkan istana, daripada hidup penuh berlian akhirnya
menghasilkan belatung.
“Roda, ya seperti
rodalah hidup ini”
“Benarkah itu
Fir????”
“Ya iya dong, coba kita lliat contoh yang ada, orang kaya
akan menjadi miskin dan sebaliknya.” (sambil berdiskusi untuk mensugesti teman
agar tahu realita)
“O, Begitu.”
“Iya dong, baca buku ini nih, aku tahu dari buku ini.”
“Baiklah, nanti aku pinjem di perpus.”
****
Suatu kata melekat dalam lubuk hatiku, aku bingung dengan diriku
sendiri. Apakah yang aku lakukan ini benar ataukah tidak. Dari mengajak teman,
sampai berbicara menasihati.
Ya, Allah…. Mengapa aku bersikap seperti itu. Semenjak diri ini aku
jilbabi, aku merasa ini bukanlah aku. Aku seperti orang lain. Sebenarnya ada
apakah dengan aku Ya Allah. Tolong, beri tahu siapa Hambamu ini sebenarnya.
By ;
T-five






0 komentar:
Posting Komentar